Kamera Mirrorles
Perkembangan
Teknologi
Kamera
Mirrorless

Disusun Oleh:
1. Fazar
Setiawan R (14114090)
2. Firman
Gustomi (14114285)
3. Ghasa
Rizky Perdana (14114508)
4. Hagai
Pantoro (14114697)
5. Johanes
Reynaldi (1D114133)
6. Lhea
Zefanya R (16114048)
7. Mutia
Salfa N (17114677)
8. Muhamad
Rafly A (16114983)
9. Novita
Sari (18114089)
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2016
KATA
PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat
ALLAH SWT. Dan dengan rahmat dan karuanianya, MAKALAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
KAMERA MIRRORLESS ini dapat kami buat
sebagai tugas softkill kami. Sebagai bahan pembelajaran kami dengan harapan
dapat diterima dan di pahami secara bersama.
Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas
mata kuliah Peng. Teknologi Sistem Cerdas. Kami mengucapkan terimakasih kepada
semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat
pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Akhirnya kami dengan kerendahan hati
meminta maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan ataupun penguraian makalah
yang kami buat. Dengan harapan dapat di terima oleh Bapak/Ibu dan dapat
dijadikan sebagai acuan dalam proses pembelajaran kami.
Depok,
Oktober 2016
Penulis
DAFTAR
ISI
ABSTRAKSI
Makalah ini dilatarbelakangi oleh
kepentingan pembelajaran peng. Teknologi Sistem Cerdas khususnya perkembangan kamera mirrorless.
Melalui kajian struktur ini, peneliti diharapkan dapat menggambarkan peran
unsur-unsur fisik tersebut dalam memperjelas ciri-ciri, keuntungan pengguna
kamera mirrorless.
Berdasarka makalah ini ditemukan hal apa
saja kelebihan dari kamera mirrorless ini. Implementasi pembelajaran dengan
membahas perkembangan kamera mirrorless ini diharapkan dapat meningkatkan minat
mahasiswa dalam pembelajaran peng. Teknologi sistem cerdas ini. Dan semoga
dengan makalah ini di buat dapat
menambah pengetahuan pembaca dalam memilih dan mengetahui jenis kamera yang
bagus.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kamera merupakan salah satu penemuan penting
yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar
mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Jauh sebelum masyarakat
Barat menemukannya, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan
seorang sarjana Muslim sekitar 1.000 tahun silam.
Jika kita perhatikan perkembangan kamera di masa
kini, sungguh sangat luar biasa pertumbuhannya. Hampir di setiap manusia berada, tidak lepas dari keberadaan kamera. Dapat dikatakan bahwa kamera kini
telah menjadi kebutuhan pokok. Bagaimana tidak, hampir di setiap handphone yang
dimiliki sebagian besar masyarakat ada fasilitas kameranya.
Lebih-lebih
dijaman sekarang ini, media sosial pun mulai menguasai manusia. Setiap manusia
kapan pun dimanapun sering memposting gambar menggunakan kamera dan di upload
ke media sosial. Sekarang ini sedang mewabahnya media sosial youtube yang
digunakan manusia untuk meng-upload keseharian mereka dan merekamnya
menggunakan kamera, atau yang sering disebut sebagai vlog. Vlog adalah video
log, yaitu manusia merekam video kegiatan mereka sehari-hari menggunakan
kamera, mulai dari bangun tidur, bekerja, shopping, makan diluar dan apapun
kegiatanya. Lalu mereka posting ke youtube dan dilihat oleh berbagai manusia di
lain negara. Nah sekarang ini banyak orang menggunakan kamera mirrorless
sebagai alat perekam kamera video mereka. Dimakalah ini kita akan membahas lebih
lanjut apakah kamera mirrorless itu.
PEMBAHASAN
Pengertian Kamera
Kamera adalah
alat paling populer dalam aktivitas fotografi. Nama ini didapat dari camera obscura, bahasa Latin untuk
"ruang gelap", mekanisme awal untuk memproyeksikan tampilan di mana
suatu ruangan berfungsi seperti cara kerja kamera fotografis yang modern,
kecuali tidak ada cara pada waktu itu untuk mencatat tampilan gambarnya selain
secara manual mengikuti jejaknya. Dalam dunia fotografi, kamera merupakan suatu peranti
untuk membentuk dan merekam suatu bayangan potret pada lembaran film. Pada kamera televisi, sistem lensa membentuk
gambar pada sebuah lempeng yang pekacahaya. Lempeng ini akan memancarkan elektron ke lempeng sasaran bila
terkena cahaya. Selanjutnya, pancaran elektron itu diperlakukan secaraelektronik. Dikenal banyak jenis kamera potret.
Sejarah kamera
Kamera
merupakan alat yang berfungsi dan mampu untuk menangkap dan mengabadikan
gambar/image. Kamera pertama kali disebut sebagai camera obscura, yang berasal
dari bahasa latin yang berarti ruang gelap. Camera obscura
merupakan sebuah alat yang terdiri dari ruang gelap atau kotak, yang dapat
memantulkan cahaya melalui penggunaan dua buah lensa konveks, kemudian
menempatkan gambar objek eksternal tersebut pada sebuah kertas/film, film
tersebut diletakkan pada pusat fokus dari lensa tersebut. Camera obscura yang
pertama kalinya ditemukan oleh seorang ilmuwan Muslim yang bernama Alhazen, hal tersebut terdapat
seperti yang dijelaskan pada bukunya yang berjudul Books of Optics (1015-1021).

Kamera
obscura
Sementara di tahun 1660-an ilmuwan
asal Inggris Robert Boyle dan asistennya Robert Hookemenemukan portable camera obscura. Namun kamera pertama yang cukup
praktis dan cukup kecil untuk dapat digunakan dalam bidang fotografi ditemukan
pertama kali oleh Johann Zahn, penemuan tersebut terjadi pada tahun
1685. Kamera fotografi pada awalnya banyak yang menerapkan prinsip model Zahn, dimana selalu menggunakan slide
tambahan yang digunakan untuk memfokuskan objek. Sistem tersebut adalah dengan
memberikan tambahan sebuah plat sensitif di depan lensa kamera tersebut setiap
sebelum melakukan pengambilan gambar.

Kamera
portable oscura
Kamera terus
berlanjut, Jacques Daguerre merupakan
salah satu dari orang-orang yang berperan dalam perkembangan teknologi kamera, dan
sekaligus memberikan jasa pada perkembangan dunia fotogarfi kita. Daguerre (begitu ia biasa
dipanggil) dilahirkan tahun 1787 di kotaCormeilles di
Perancis Utara. pada waktu muda, Jacques
Daguerre adalah seorang seniman. Pada umur 30-an Daguerre merancang diograma, yang dimaksud dengan diograma adalah barisan
lukisan pemandangan yang mempesona bagusnya, dipertunjukkan dengan bantuan efek
cahaya. SementaraDaguerre mengerjakan
pekerjaannya tersebut, Daguerre menjadi
tertarik dengan pengembangan suatu mekanisme untuk secara otomatis melukiskan
kembali pemandangan yang ada di dunia tanpa menggunakan kuas atau cat, yaitu
tidak lain adalah KAMERA.
Di tahun
1827 Daguerre bertemu
dengan Joseph Nicephore Niepce yang
juga sedang mencoba yang sejauh itu lebih sukses menciptakan kamera. Dua tahun
kemudian mereka bekerjasama. Namun di tahun 1833 Niepce meninggal, akan tetapi
Daguerre tetap melanjutkan percobaannya. Menjelang tahun 1837 ia berhasil
mengembangkan sebuah sistem praktis fotografi yang disebutnyadaguerreotype. Tahun 1839 Daguerre memberitahu publik
secara terbuka tanpa mempatenkannya. Sebagai imbalan, pemerintah Perancis
menghadiahkan pensiun seumur hidup kepada Daguerre maupun anak Niepce.
Pengumuman penemuan Daguerre menimbulkan kegemparan penduduk pada saat itu dan
ia menjadi seorang pahlawan yang ditaburi berbagai macam penghormatan serta
penghargaan, sementara metode daguerreotype dengan
cepat berkembang dan banyak digunakan oleh khalayak. Daguerre sendiri segera
pensiun. Dia meninggal tahun 1851 di kota asalnya dekat Paris.
Seiring
dengan berjalannya waktu, perkembangan teknologi kamera semakin hari berkembang
semakin pesat. Fungsi dan kebutuhan penggunaanya pun semakin luas dirasakan
oleh berbagai pihak. Kamera tidak hanya digunakan sekedar untuk menangkap objek
yang berfungsi sebagai kenang-kenangan semata, tetapi juga digunakan untuk
menangkap objek yang sedang bergerak. Sebut saja perkembangannya kemudian
seperti kamera video, kamera mikro, kamera sensor dan lain sebagainya.
Perkembangannya pun telah meliputi berbagai bidang, seperti pada bidang
sinematografi, pendidikan, kedokteran, dan bahkan sampai pada bidang sistem
pertahanan dan keamanan pun tidak terlepas dari penggunaan teknologi kamera
ini.
Sejarah Kamera Digital
Fotografi digital merupakan salah
satu inovasi terbaik dalam dunia fotografi. Kehadirannya telah mengubah
paradigma masyarakat yang menganggap bahwa fotografi adalah suatu bidang yang
mahal dan sulit untuk dikuasai. Fotografi digital benar-benar bisa memberikan
kepraktisan dan kemudahan bagi setiap orang untuk membuat sebuah foto yang
baik. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, dan beragam fitur untuk membuat
foto yang bagus, muncul sebuah ungkapan bahwa setiap orang bisa menjadi
fotografer profesional.
Bila ditelusuri dari sejarahnya, maka
kita akan kembali ke tahun 1960-an. Di mana dunia sedang mengalami revolusi
besar-besaran di bidang teknologi digital dan elektronik. Eugene
F. Lally, seorang teknisi dari Jet Propulsion Laboratory NASA adalah orang
pertama yang mencetuskan ide untuk mendigitalisasi sebuah foto. Saat itu
tujuannya adalah untuk mempermudah pengiriman foto secara langsung dari
misi-misi luar angkasa Amerika Serikat.
Pada tahun 1970an, dunia jurnalistik
turut mempengaruhi kemunculan kamera digital. Saat itu, terdapat sebuah
tuntutan untuk menghadirkan foto dari suatu peristiwa yang terjadi, secepat
mungkin. Maka digunakanlah media pemindai foto (scanner).
Sebuah foto dipindai menjadi data elektronik, kemudian dikirimkan melalui jalur
telepon. Akan tetapi, cara ini juga masih dianggap merepotkan, karena terjadi
penurunan kualitas gambar yang cukup signifikan dan proses pengiriman foto pun
masih memerlukan waktu yang relatif lama. Untuk
menjawab persoalan ini, diperlukan suatu kamera yang bisa secara langsung
menciptakan foto yang berupa data elektronik. barulah pada bulan Desember tahun
1975, seorang teknisi dari perusahaan Kodak yang bernama Steven Sasson, menjadi orang pertama yang menemukan
Kamera Digital.
Kamera yang dibuatnya, menggunakan
sensor CCD sebagai media penerimaan gambar dan hanya mampu menghasilkan foto
hitam putih dengan resolusi sebesar 0,01 megapixel (320 x 240 pixel). Media
penyimpanannya adalah sebuah kaset tape, sedangkan
untuk melihat hasil gambar, kamera ini harus disambungkan terlebih dahulu
dengan sebuah televisi. Kamera ini mempunyai bobot seberat 3,6 kg dan membutuhkan
waktu tak kurang dari 23 detik untuk memproses satu buah foto.

Kamera
digital pertama
Walaupun kamera digital model pertama
ini masih belum praktis dan belum sepenuhnya menjawab persoalan-persoalan yang
terjadi, tapi alat ini telah menjadi awal mula dari kemudahan dan kepraktisan
teknologi fotografi digital yang kita nikmati sekarang ini. Setelah penemuan
dari kamera digital model pertama, kamera-kamera digital selanjutnya terus
bermunculan dengan perbaikan-perbaikan dari model sebelumnya, dengan berbagai
fitur serta kemampuan yang baru.
Ada bebrapa sensor yang digunakan
dalam kamera digital. Namun pada kenyataannya, hanya ada dua jenis sensor yang
sering digunakan yaitu sensor CCD(charge coupled device)
dan CMOS( Complementary metal oxide semicondictor).
Sensor CCD merupakan keping silikon yang terbentuk dari ribuan(bahkan jutaan)
dioda foto sensitif yang disebutphotosite,photo element,atau
pixel. Setiap pixel menangkap satu titik objek, kemudian merangkainya dengan
hasil tangkapan pixel lain hingga menjadi gambar. Sedangkan CMOS adalah sirkuit
kecil yang ditempelkan pada keping silikon. Sirkuit ini bisa mengatasi
kekurangan pada sensor CCD dalam hal ukuran karena lebih kecil. Dari segi
teknologi dan harga pun CMOS bisa memberi harapan yang baik.
Kamera bersensor CMOS memberi
keuntungan-keuntungan yang tidak didapat pada kamera bersensor CCD. Sensor CMOS
bisa digabungkan dengan rangkaiaan lain untuk keperluan tertentu sehingga
harganya bisa ditekan. Bentuk kamera pun dimungkinkan lebih kecil dan ringan. Kelebihan
lainnya adalah sensor CMOS bisa berubah dari mode pemindaiaan gambar menjadi
mode pemindai gambar bergerak. Ini menjadikan kamera digital bisa sekaligus
menjadi sarana untuk merekam video sekaligus. Sensor CMOS juga mempunyai daya
tahan lebih lama daripada sensor CCD
Terlepas dari segala kelebihannya
dibandingkan dengan kamera bersensor CCD, kamera bersensor CMOS juga memiliki
kekurangan. Bahkan secara keseluruhan, kamera bersensor CCD jauh lebih baik
dibandingkan dengan kamera bersensor CMOS. Hal ini dikarenakan kualitas gambar
yang dihasilkan kamera bersensor CCD lebih baik daripada kualitas gambar yang
dihasilkan kamera bersensor CMOS. Noise yang dihasilkan juga tidak sebanyak
kamera bersensor CMOS.
KAMERA
MIRRORLESS

Kamera mirrorless alias Mirrorless
Interchangeable-Lens Camera (MILC) atau Kamera Tanpa Cermin Dengan
Lensa Yang Bisa Diganti-ganti (apa tuh singkatannya dalam Bahasa
Indonesia?) aliasCompact Camera System alias Electronics Viewfinder with
Interchangeable Lens (EVIL) -duh banyak banget istilahnya –
adalah salah satu kelas sistem kamera digital yang mulai menanjak
popularitasnya sejak pertama kali dimunculkan di sekitar 2008. Jawaban singkat
dari pertanyaan “Apa sih Kamera Mirrorless?” adalah kamera yang mirip DSLR
namun tidak memakai cermin. Nah untuk jawaban panjang, silahkan baca lebih
lanjut.
Istilah Untuk Menyebut
Kamera Mirrorless
Banyak
sekali istilah bagi orang-orang menyebut sebuah kamera Mirrorles, kalau boleh
saya menyebut type kamera
jaman dulu dari bentuk fisiknya. Ada beberapa sebutan bagi kamera yang satu
ini. Diantaranya adalah Mirrorless Interhangable-Lens Camera (MILC) atau
Compact Camera System atau Electronics Viewfinder with Interchangable Lens
(EVIL).
Background
Belum lama pertanyaan klasik,
‘Kamera apa yang sebaiknya saya beli?’ memiliki jawaban yang relatif simpel
namun memiliki konsekuensi berat: mau kamera DSLR atau kamera saku?. Kalau
priotitasnya adalah kualitas hasil foto terbaik, kecepatan dan kontrol manual
penuh, maka pilihannya kamera DSLR. Sementara kalau prioritas kita adalah
ukuran kecil, enteng, gampang dipakai, harga terjangkau maka pilihannya jatuh
ke kamera saku dengan pengorbanan kualitas foto yang lumayan besar.
Jalan tengah juga berusaha dimunculkan
oleh produsen kamera dengan kelas kamera superzoom, meskipun kamera superzoom
masih jauh dari ideal untuk menjadi kamera jalan tengah mengingat ukuran
sensornya yang kecil. Anda bisa membaca lagi perbedaan Kamera DSLR, Kamera Saku
dan Kamera Superzoom
Kamera Jalan Tengah
Namun sejak
dimunculkannya kamera mirrorless, banyak orang menganggap bahwa jalan tengah
ideal sudah mulai terlihat arahnya. Kamera mirroless memiliki karakteristik
sebagai berikut:
1. Ukuran
relatif lebih kecil dan ringkas
2. Jauh
lebih ringan
3. Kualitasnya
hasil fotonya tidak jauh-jauh amat dari DSLR
4. Ukuran
sensornya setara DSLR kelas menengah
5. Memiliki
opsi mengganti lensa
6. Harganyapun
tidak semahal kamera DSLR (mmm, kecuali Leica dan Fujifilm X)
10 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Kamera Mirrorless
1. Kamera mirrorless ukurannya lebih
kecil dan lebih ringan?
Olmypus EM5
dan Canon 5d. Sama-sama pakai lensa 24-70 f/2.8. 700 gr Kg vs 1700 gram
Sebagian besar, iya. Tapi bisa juga
tidak, apalagi kalau ukuran sensor kameranya besar. Karena kamera mirrorless
adalah sebuah sistem, jadi jangan lupakan lensa. Semakin besar sensor, maka
ukuran image circle pasti lebih besar, sehingga ukuran lensa pun membesar
menurut fisika.
Coba bandingkan lensa DSLR 70-200
f/4 canon dengan lensa serupa milik sistem mirorrless Sony A series. Ukurannya
tak jauh berbeda. Untuk ukuran body, jelas sony A7 series jauh lebih kecil.
Tapi lensanya? Belum tentu.
Ada juga mirrorless seperti samsung
NX1 yang ukurannya serupa denggan DSLR mid level. Kecuali kamu butuh
fitur-fitur yang tak ada di DSLR dan ada di kamera mirrorless segede gaban itu,
saya sih lebih memilih DSLR.
2. Autofokus
kamera mirrorless lebih lambat?
Awal-awal kamera mirrorless muncul,
mungkin iya. Tapi di 2015 ini, kecepatan autofokus sudah bukan masalah. Yanga
masih menjadi masalah adalah kecepatan Autofokus untuk mengikuti benda bergerak
(AF-C, AF servo, semacam itu).
Untuk autofokus statis (AF-Single,
bukan AF Jomblo) kamera mirorrles bahkan beberapa lebih cepat daripada DSLR.
Menurut pengalaman saya, untuk AF statis kamera mirrorless dari Olympus dan
Panasonic paling juara. Disusul oleh Sony, Samsung, dan Fuji.
Untuk AF tracking, Sony dan Fuji
sepertinya masih lebih unggul daripada merk lainnya.
3. Kualitas Foto
Mirrorless sama dengan DSLR?
Kurang lebih iya. Dengan catatan perbandingannya dengan
ukuran sensor yang sama. Misal saja mirrorless Sony A6000 hasil fotonya tak
akan jauh berbeda dengan Nikon D7100 karena sama-sama berukuran APS-C. Atau
Nikon D800 dengan Sony A7. Tentu saja pasti akan berbeda kemampuan high-iso dan dynamic range-nya,
namun tak akan berbeda jauh.
4. Bisa pakai
lensa-lensa manual apapun?
Sony A7s
dengan lensa mount Leica
Karena flange distance yang sangat
pendek (jarak antara sensor dan lensa), kamera mirorrless bisa memakai lensa apapun,
tentunya dengan adapter yang tepat.
6. Leica
merupakan kamera mirrorless sejak dahulu?
Sony A7 merupakan mirorless full-frame pertama? Sepertinya
bukan. Karena Leica M series memang mirorrless sejak dulu. Tapi, Leica M juga
bukan DSLR. Leica adalah jenis Rangefinder. Bahkan kamera-kamera saku (dan
kamera handphone) memang kamera mirrorless. Namun disini term mirrorless adalah
sebuah sistem kamera tanpa mekanisme mirror yang lensanya bisa diganti. Jadi
kamera seperti Fuji X100 atau Ricoh GR walaupun ‘mirrorless’, tetap bukan
mirrorless yang disebut orang-orang.
7.
Pilihan lensa kamera mirrorless masih sedikit
Mirrorless Interchangeable Lens Camera (MILFC) adalah sistem yang relatif baru. Lensa makin
terus berkembang. Untuk saat ini lensa olympus dan panasonic paling
bervariatif. Fuji punya lensa-lensa prime yang sangat menggoda. Berikut daftar
lensa yang ada saat ini.

Kelengkapan
lensa mirrorless (mei 2015)
8. Shutter
Kamera Mirrorless lebih Silent dan Fleksibel
Tak ada suara mirror yang bergerak saat shutter bekerja
membuat suara kamera lebih tenang. Beberapa kamera mirrorless juga punya electronic
shutter, shutter elektronik tanpa pergerakan mekanik sehingga menghasilkan
shutter tanpa suara dan kecepatan yang bisa mencapai 1/32000 detik — tentunya
dengan beberapa efek samping seperti jello
effect.
9. Kamera
Mirorrless micro 4/3 kurang ‘bokeh’?

Contoh
bokeh dengan kamera mirrorless. Panasonic GX7 + lensa 20 mm 1.7. Saya rasa
cukup walaupun memang tak bisa menandingin full frame.
Sekali lagi ini tergantung ukuran sensor dan aperture lensa.
Kamera micro four third seperti olympus dan panasonic punya sensor yang 2x
lebih kecil (atau 1.5x untuk sensor APS-C seperti Fuji X atau Samsung NX)
daripada sensor ‘full frame’ seperti Sony A7 series sehingga DOF juga lebih
tipis.
Sebagai contoh, jika menggunakan f/2.8 pada micro four
third, maka ruang tajam (DOF) akan ekuivalent dengan f/5.6 di full frame. Dan
juga sebaliknya, jika kita menggunakan f/2.8 pada full frame, maka untuk
mendapatkan ruang tajam dan bokeh sama sama, kamera micro four thirds butuh
f/1.4. Tapi ekuvalensi ini hanya berlaku pada ruang tajam ya. Untuk intensitas
cahaya, f/2.8 tetap f/2.8 pada format apapun.
10.
Baterai kamera mirrorless lebih boros dibandingan DSLR?

Memotret menggunakan live view
dengan Fuji XA-2 di Electronic City. Live view di mirrorless memang
menyenangkan, tapi memang tak hemat baterai.
Betul sekali. Sebagai contoh DSLR
rata-rata bisa memotret sekitar 700-1000 foto dengan satu baterai. Sedangkan
kamera mirrorless hanya sekitar 200-400 foto. Hal ini disebabkan karena kamera
mirrorless butuh daya yang lebih besar untuk ‘live view’ dari sensor ke
LCD. Sedangkan DSLR menggunakan optical viewfinder (jendela bidik optik) yang
mungkin tak membutuhkan daya. Tapi ini sebetulnya normal, jika kita menggunakan
mode live view pada DSLR, kemampuan baterai pun tak akan berbeda jauh dengan
kamera mirorrless.
Desain
Umumnya kamera mirrorless mempunyai
bentuk yang ringkas dengan desain yang simple tapi ada juga yang menggunakan desain
"jadul" misalnya fujifilm yang mendesain mirrorlessnya lebih ke
desain "jadul" untuk mengingatkan kembali kemasa-masa yang telah
lalu.
Cara Kerja Kamera Mirrorless
Cara kerja kamera DSLR
membutuhkan cermin (mirror) untuk memunculkan gambar pada viewfinder, sedangkan
pada kamera mirrorless diperoleh dengan membuang cermin/mirror yang ada pada
kamera DSLR. Dengan tidak adanya mirror tersebut, maka kamera mirrorless
kehilangan viewfinder optik namun digantikan dengan viewfinder elektonik (EVF –
Electronic ViewFinder), kecuali pada mirrorles keluaran Leica dan Fujifilm yang
tetap menggunakan ViewFinder optik.

Jenis Sensor di Kamera Mirrorless
- Sensor
APS-C
- Sensor
Four Thirds
- Sensor
Nikon CX (1 inches)
- Sensor
kecil 1/2 .3 inches (Penta Q)
Perbedaan Mirrorless Dengan DSLR
Lantaran
tak memiliki mirrorbox, kamera mirrorless memiliki sejumlah perbedaan mendasar
dengan DSLR dismping bentuknya yang relatif lebih kecil dan kontruksi yang
lebih sederhana (tanpa komponen mekanik untuk mirrorbox).
Pertama, mirrorless tidak
memiliki jendela bidik optik (OVF, optical viewfinder). Proses pembidikan
gambar atau framing dilakukan lewat layar LCD atau jendela bidik elektronik
(EVF, electronic viewfinder).
Cara kerja EVF sebenarnya sama
dengan layar LCD, yakni menyalurkan gambar lewat sensor yang terus menerus
aktif. Hanya saja penempatan dan ukurannya yang berbeda, yakni dibuat serupa
jendela bidik optis untuk “dikeker” dengan sebelah mata.
EVF memiliki kelebihan dibanding
OVF, misalnya pengguna bisa langsung melihat perubahan hasil exposure saat
menyesuaikan paramenter seperti aperture, ISO, atau white balance. Bisa pula
ditambahkan overlay aneka informasi berguna, seperti level indicator atau histogram
untuk memandu exposure.
Kekurangannya, EVF lebih
boros daya karena kamera harus senantiasa mengaktifkan sensor dan layar jendela
bidik supaya pengguna bisa melihat gambar.

Pengguna DSLR bisa
melihat obyek yang ada di depan lensa (Through The Lens, TTL) melalui OVF saat
kamera sedang tidak dinyalakan. Ini karena mekanisme mirrorbox meneruskan
cahaya dari lensa menuju pentaprisma, lalu viewfinder, tanpa harus mengenai
sensor.
Sebaliknya, EVF
pada mirrorless akan tampak gelap gulita saat kamera tidak menyala.
Jika kamera menyala dan sensor aktif, barulah gambar yang "dilihat"
oleh lensa bisa ditampilkan di EVF mirrorless.
Ketika dipakai membidik
melalui LCD, baik mirrorless maupun DSLR (lewat Live View)
menggunakan prinsip kerja yang sama, yakni meneruskan gambar yang ditangkap
sensor ke layar.
Beda
sensor
Perbedaan
kedua, mirrorless melakukan pengukuran cahaya (metering) dan
penguncian fokus langsung dari sensor gambar. Adapun DSLR menggunakan
sensor-sensor berbeda untuk keperluan tersebut yang terpisah dari sensor gambar
utama.
Sensor metering dan
autofokus DSLR masing-masing terletak di atas dan di bawah
mekanisme mirrorbox. Cahaya yang masuk dari lensa dibelokkan oleh
cermin mirrorbox agar ikut mengenai dua sensor ini (disamping
diteruskan ke OVF), untuk melakukan pengukuran cahaya dan fokus.
Saat pengguna menekan
tombol shutter, barulah cermin mirrorboxterangkat sehingga cahaya bisa
diteruskan ke sensor gambar utama untuk mengambil foto.
Terkesan rumit? Memang
demikian. Ini pula sebabnya proses pembuatan DSLR harus dilakukan secara
presisi karena banyaknya komponen mekanik yang dilibatkan.

Kamera mirrorless tak
memerlukan mekanisme ribet di atas. Kelebihannya, selain ukuran fisik kamera
menjadi lebih ringkas, autofokus pada mirrorless relatif lebih akurat
dibandingkan DSLR.
Mirrorless mengandalkan
teknik contrast detect secara langsung lewat gambar yang ditangkap
sensor gambar utama, bukan dengan sensor fokus terpisah yang rawan meleset
apabila kalibrasinya kurang presisi.
Memang, meski lebih
akurat, proses autofokus pada mirrorlesscenderung lebih pelan dibandingkan
DSLR karena contrast detect pada dasarnya adalah gerakan
memaju-mundurkan mekanisme fokus sampai diperoleh gambar paling tajam, mirip
proses fokus manual dengan tangan.
Namun, belakangan para
pabrikan mirrorless telah mulai mengejar ketertinggalan dalam hal
kecepatan fokus dengan menanamkan mekanisme phase detect pada sensor
gambar.
Metode phase
detect mampu mendeteksi jarak subyek foto berdasarkan cahaya yang masuk
dari lensa -tak harus maju-mundur lebih dahulu seperti pada contrast
detect-, lalu langsung mengarahkan motor fokus lensa ke jarak yang sesuai.
Metode inilah yang digunakan oleh sensor autofokus terpisah pada DSLR sehingga
bisa mengunci fokus secepat kilat dan melacak subyek bergerak (focus tracking).
Mirrorless termutakhir,
seperti Alpha A6300 dari Sony dan X-T2 dari Fujifilm yang dibekali
teknologi phase detect di sensor gambarnya, bisa dibilang sudah mampu
menandingi DSLR dalam hal kecepatan fokus dan pelacakan subyek bergerak.
Lebih
tipis, lebih fleksibel
Lalu perbedaan ketiga terletak
pada lensa. Penghilangan mirrorboxberujung pada flange focal
distance alias jarak dari dudukan lensa ke sensor gambar yang ikut
terpangkas.

Walhasil, meski
sebagian besar dari pabrikan kameramirrorless juga memproduksi (atau
setidaknya pernah memproduksi) DSLR, mereka tak bisa serta merta memasangkan
lensa DSLR dengan kamera mirrorless.
Perlu dibuat lini lensa
baru yang khusus didesain untukmirrorless, demi menyesuaikan denganflange
focal distance yang lebih pendek tadi dan juga dengan mekanisme fokus
langsung dari sensor.
Pengurangan flange
focal distance menghasilkan dua keuntungan, yakni bodi
kamera mirrorless bisa dibuat lebih tipis, tak “gemuk” seperti DSLR
yang mesti menyediakan tempat untuk mirrorbox.
Lensa mirrorless pun
biasanya dirancang agar berukuran lebih kecil dibandingkan lensa DLSR yang
sekelas. Ingat lensa pancake? Jenis lensa tipis itu dikembangkan supaya cocok
dipakai untuk kamera mirrorless.
Keuntungan lain,
kamera mirrorless lebih fleksibel soal lensa alias bisa dipasangi
lensa-lensa untuk sistem kamera berbeda dengan bantuan adapter, termasuk lensa
milik DSLR.

Lebih
banyak pilihan
Kamera mirrorless pertama
adalah Panasonic Lumix DMC-G1 yang dirilis ke pasaran pada 2008. Ketika itu
bentuknya masih menyerupai DSLR dengan bagian “punuk” yang
memuat viewfinder.
Beberapa lama setelah
Lumix G1, mulai bermunculan kameramirrorless dengan bentuk yang lebih
ringkas, mirip kamera saku dengan lensa yang bisa dicopot, seperti misalnya Pen
E-P1 dari Olympus dan Lumix GF1, juga buatan Panasonic.
Kamera mirrorless dengan
bentuk lebih ringkas dan tanpa punuk tersebut dikenal dengan sebutan
“rangefinder style”, mengacu pada kamera rangefinder jadul yang
berbentuk persegi panjang.
Sebagian
kamera mirrorless rangefinder style yang ditujukan bagi konsumen awam
hanya mengandalkan layar LCD (biasanya layar sentuh) untuk keperluan membidik
gambar, tapi sebagian lainnya ada pula yang dilengkapi EVF di pojok kiri atas
kamera.
Saat ini mayoritas
kamera mirrorless yang beredar bisa dibilang menganut kedua faktor
bentuk itu, yakni mirip DSLR tradisional dengan punuk berisi EVF atau
serupa rangefinder.
Mana yang lebih cocok
tergantung selera pengguna. Ada yang menyukai bentuk ringkas kamera mirrorless
ala rangefinder, ada juga yang lebih nyaman dengan
bentuk mirrorless ala DSLR dengan handgrip dan banyak tombol untuk
pengaturan manual.

Dari
dua faktor bentuk tadi, mirrorless sudah lebih beragam dari DSLR yang rata-rata
mengusung bentuk serupa, melulu dengan punuk, handgrip, dan bodi montok.
Belum
lagi menghitung keragaman jenis sistem (merek) yang tersedia. Berbeda dari
pasaran DSLR yang praktis didominasi oleh Canon dan Nikon, jumlah pabrikan yang
mencoba peruntungan di ranah mirrorlesslebih banyak.
Ada
Panasonic dan Olympus yang lensanya bisa saling ditukar, lalu Sony dan
Fujifilm, bahkan Leica, di samping dua pemain lama Canon dan Nikon. Ragam
aksesori seperti flashgun hingga mikrofon yang bisa dipasangkan
dengan kamera mirrorless pun sudah banyak beredar.
Ukuran
sensor yang bisa dipilih juga lebih beraneka jenisnya. Ingin lensa-lensa
mungil? Ada pabrikan yang membuat mirrorless dengan sensor sebesar 1
inci atau micro four-thirds. Mau kualitas gambar maksimal? Ada pula
pabrikan mirrorless dengan sensor berukuran APS-C
dan full-frame.
Satu
hal yang mungkin masih menjadi batu sandungan adalah ketersediaan jenis lensa
yang belum sebanyak DSLR, terutama untuk seri lensa profesional, super tele
atau specialized lens seperti tilt-shift, meski kendala ini sedikit banyak bisa
diatasi dengan memakai adapter lensa.
Namun,
perlahan tapi pasti, mirrorless mengejar ketertinggalan. Seperti
masalah kecepatan fokus yang kini tak lagi menjadi momok, bukan tidak mungkin
suatu hari nanti mirrorless bisa menyamai atau bahkan melewati DSLR
dalam semua hal.
Apa Keuntungan Memilih Kamera
Mirrorles untuk Fotografi?
- Ringan. Jenis kamera mirrorless cenderung
ringan dibandingkan dengan kamera digital jenis lainnya, misalnya DSLR.
Dengan bobotnya yang ringan membuat mirrorles ini mudah untuk dibawa
kemana-mana, tidak memerlukan space tas yang luas untuk membawa kamera
ini.
- Harga yang Terjangkau. Sebagian kamera
Mirrorless dipasaran dibandrol dengan harga yang cukup terjangkau/ murah
dibandingkan dengan harga kamera DSLR. Namun ada beberap jenis Mirrorless
yang dibandrol dengan harga yang cukup mahal, diatas harga DSLR
rata-rata.
- Gambar yang Berkualitas. Hasil jepretan kamera
Mirrorless sangat mumpuni, hampir sejajar dengan hasil jepretan dengan
DSLR.
- Bentuk yang Klasik.Bentuk fisik kamera
Mirrorless seperti kamera klasik atau kamera jadul yang masih menggunakan
film atau sering dikenal dengan sebutan klis. Bentuknya ini terkesan unik
namun modern.
Kelebihan Kamera Mirrorless
Kelebihan yang menonjol dari
Mirrorless mungkin hanya di ukuran yang relatif kecil dan mempunyai bobot yang
ringan untuk hasil jepretan tidak jauh berbeda dengan kamera DSLR tergantung
dari Level Mirrorless itu sendiri dan tidak lepas dari siapa dibalik kamera
itu. Tapi karena mirrorless seperti kamera compact maka pada sebagian kamera
mempunyai banyak fitur, misalnya terdapat wi-fi, layar touchscreen, video full
HD, dan mode-mode seperti panorama, firework, dll.
Kekurangan Kamera Mirrorless
Terdapat banyak kekurangan seperti
batre yang tidak tahan lama, lensa mirrorles yang masih sedikit tapi sebagian bisa
menggunakan lensa DSLR yang sudah ada, hasil gambar yang kadang tidak sesuai
dengan yang di tampilkan layar kamera.
Dibawah ini
beberapa kamera Mirrorless:
·
Leica M

·
Olympus OMD
dan PEN

·
Panasonic G

·
Canon Eos M

·
Samsung NX

·
Sony NEX

PENUTUP
Kesimpulan
Sebelum kamera
ditemukan, orang membuat gambar dengan melukis atau menggambar. Itu membutuhkan
waktu dan bisa tidak akurat. Ditemukannya kamera obskura merupakan tonggak
perubahan adanya kamera yang kita manfaatkan saat ini. Kamera memungkinkan
orang untuk membuat catatan visual dari kehidupan mereka dan kejadian penting.
Tiba-tiba orang bisa melihat foto-foto suatu tempat yang jauh. Kamera membawa
seluruh dunia menjadi lebih dekat dan terbayangkan. Foto-foto mulai
mempengaruhi orang-orang dan berpendapat tentang dunia. Kamera membawa
perubahan besar pada kehidupan.
Saran
Untuk para pembaca mudah-mudahan makalah
ini bisa membantu pembaca dalam memahami macam-macam kamera khususnya kamera
mirrorless. Jika pembaca ingin membeli kamera disarankan agar membaca
spesifikasinya, mengetahui harganya, serta membeli sesuai apa yang pembaca
inginkan dan dibutuhkan.
DAFTAR PUSTAKA



Comments
Post a Comment